Mengolah Kelapa Menjadi Rezeki, Kisah Henry dan Elis dari Tungkaina

📅 04 July 2026 👁 10kali dibaca ✍ Administrator
Mengolah Kelapa Menjadi Rezeki, Kisah Henry dan Elis dari Tungkaina

🎥 Tonton Liputan Video


LIKUPANG Info.-Di tengah dominasi minyak goreng sawit di pasaran, sepasang suami istri di Kelurahan Tungkaina, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, justru memilih kembali mengolah hasil kebun mereka sendiri. Berbekal pohon-pohon kelapa yang tumbuh di sekitar rumah, **Henry Johanis (36)** bersama sang istri, **Elis Purebe (24)**, memproduksi minyak kelapa secara tradisional, sekaligus menjaga warisan olahan khas yang mulai jarang ditekuni masyarakat.

Usaha rumahan itu telah mereka jalankan sejak 2018. Awalnya, minyak kelapa tersebut hanya dibuat untuk memenuhi kebutuhan dapur keluarga agar tidak lagi bergantung pada minyak goreng yang dijual di pasaran. Namun, siapa sangka, dari kebiasaan sederhana itu lahir peluang usaha yang kini menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga kecil mereka.

"Awalnya memang hanya untuk konsumsi sendiri. Tapi setelah istri mengunggah hasil produksi ke media sosial, mulai ada yang memesan. Sekarang kami juga melayani permintaan dari pelanggan," tutur Henry.

Setiap botol minyak kelapa yang dihasilkan bukanlah proses yang instan. Semuanya dimulai dari memilih buah kelapa yang sudah tua. Sabut dipisahkan dari tempurung, kemudian tempurung dibelah untuk mengambil daging kelapa.

Daging kelapa selanjutnya diparut menggunakan mesin hingga menjadi serbuk halus sebelum diperas menjadi santan. Santan itu kemudian dimasak dan melalui proses pengendapan selama kurang lebih satu hari hingga minyak terpisah sempurna dari kandungan airnya.

Untuk menghasilkan satu botol minyak berukuran setengah liter, Henry membutuhkan sekitar 13 hingga 15 butir kelapa, tergantung ukuran buah yang dipanen.

Berbeda dengan minyak goreng sawit yang berwarna kuning keemasan atau minyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil/VCO) yang bening, minyak kelapa buatan Henry memiliki warna kuning pucat. Meski tampilannya sederhana, aroma khas kelapa yang dihasilkan justru menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelanggan.

Tak ada bagian kelapa yang terbuang sia-sia.

Saat membelah buah kelapa, Henry sengaja menggunakan gerinda agar tempurung tetap utuh. Bahan yang biasanya dianggap limbah itu kemudian diolah menjadi berbagai kerajinan tangan, seperti mangkuk, asbak, pot bunga, hingga gantungan kunci yang memiliki nilai jual.

Sementara ampas kelapa dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Bahkan endapan minyak atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai **tai minyak** juga masih bisa dimanfaatkan sebagai campuran sambal, menghadirkan cita rasa gurih yang khas.

Kini, usaha kecil tersebut telah memiliki sekitar 20 pelanggan tetap. Sebagian besar merupakan ibu rumah tangga yang setiap bulan membeli sekitar enam botol minyak kelapa untuk kebutuhan memasak. Selain itu, salah satu toko herbal di Kota Manado juga rutin menjadi pelanggan mereka.

Bagi Henry dan Elis, usaha ini bukan semata-mata soal keuntungan. Lebih dari itu, mereka ingin membuktikan bahwa kelapa masih menjadi sumber kehidupan yang bernilai tinggi jika diolah dengan baik.

Di tengah naik turunnya harga minyak goreng dan derasnya produk industri, pasangan muda ini tetap setia mempertahankan cara tradisional mengolah kelapa. Dari kebun yang mereka miliki, lahir minyak goreng alami untuk dapur keluarga, sekaligus menjadi sumber rezeki yang terus mengalir.

Kisah Henry dan Elis menjadi bukti bahwa pohon kelapa bukan hanya simbol kehidupan masyarakat Sulawesi Utara, tetapi juga menyimpan peluang ekonomi yang dapat terus tumbuh melalui kreativitas dan ketekunan.

← Kembali

💬 Berikan Komentar

Silakan beri penilaian dan komentar Anda mengenai berita ini.









🗨 Komentar Pembaca

Belum ada komentar.

📰 Berita Lainnya