LIKUPANG.INFO, WINERU – Malam baru saja usai selepas salat Isya. Dari sebuah sudut di Desa Wineru, Kecamatan Likupang Timur, suara tabuhan rebana mulai memecah keheningan. Ketukan demi ketukan berpadu dengan lantunan selawat, menghadirkan suasana hangat yang menjadi penanda dimulainya latihan rutin Kelompok Rebana Majelis Taklim Al Jihad.
Kelompok ini bukan sekadar menjadi pengisi hiburan dalam berbagai hajatan masyarakat. Di balik irama yang dimainkan, rebana menjadi media syiar Islam sekaligus ruang mempererat silaturahmi antaranggota majelis taklim.
Formasi kelompok ini terdiri atas dua vokalis, lima penabuh rebana yang mengatur irama utama, serta dua personel cilik yang memainkan alat musik perkusi, yakni tam dan darbuka. Dua anak tersebut adalah Nisa dan Azka, siswa SD Inpres Maen, Desa Wineru.
Meski masih duduk di bangku sekolah dasar, keduanya terlihat percaya diri mengikuti setiap arahan pelatih. Ketukan pada tam maupun darbuka dimainkan dengan penuh semangat dan ketelitian, bahkan mampu menyatu dengan irama para penabuh rebana yang sebagian besar merupakan ibu-ibu anggota majelis taklim.
Ketua Majelis Taklim Al Jihad, Irmawati Lentengboba, mengatakan kelompok rebana ini mulai terbentuk pada September 2025. Sejak saat itu, latihan dilakukan secara rutin setiap malam setelah salat Isya.
Menurutnya, selain mengisi acara hajatan masyarakat, kelompok rebana juga sering tampil mengiringi pembacaan Maulid Diba dan berbagai puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW.
"Rebana bukan hanya tentang musik. Ini menjadi bagian dari syiar sekaligus wadah kebersamaan bagi ibu-ibu majelis taklim," ujarnya.
Di balik kekompakan kelompok tersebut, ada sosok pemuda bernama Nofal yang dipercaya menjadi pelatih. Ia mengaku mengajarkan teknik dasar memainkan rebana sebenarnya tidak terlalu sulit. Tantangan terbesar justru menyatukan tempo dan kekompakan seluruh pemain.
"Ketekunan adalah kunci utama keberhasilan. Awalnya memang sering kali pukulan satu pemain belum senada dengan pemain lainnya. Tetapi kalau terus dilatih, sesuatu yang awalnya terasa sulit akhirnya menjadi mudah," katanya.
Semangat itu juga dirasakan oleh Nurjalia Wentong, salah seorang anggota kelompok rebana. Ia masih mengingat masa-masa awal latihan ketika jari-jarinya terasa nyeri akibat terus memukul rebana.
"Awalnya memang sakit, terutama di jari. Tapi sekarang sudah terbiasa karena sering latihan," ungkapnya sambil tersenyum.
Menariknya, suasana latihan tidak selalu berlangsung serius. Gelak tawa hampir selalu terdengar ketika ada pemain yang terlambat masuk ketukan atau salah nada. Tingkah lucu para ibu-ibu kerap membuat pelatih harus mengulang bagian lagu berkali-kali.
Alih-alih menjadi hambatan, momen-momen tersebut justru membuat latihan terasa lebih hidup. Canda, tawa, dan semangat belajar berjalan beriringan hingga menghasilkan harmoni yang semakin kompak dari waktu ke waktu.
Di tengah derasnya arus modernisasi, keberadaan Kelompok Rebana Majelis Taklim Al Jihad menjadi bukti bahwa seni islami tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Lebih dari sekadar pertunjukan, rebana menjadi sarana menjaga tradisi, memperkuat ukhuwah, sekaligus menanamkan kecintaan terhadap syiar Islam kepada generasi muda melalui keterlibatan Nisa dan Azka yang mulai belajar sejak usia dini.
Dari Desa Wineru, tabuhan rebana itu terus bergema. Bukan hanya mengiringi selawat, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya kebersamaan, kesabaran, dan ketekunan dalam menjaga warisan budaya serta nilai-nilai keagamaan.