LIKUPANG INFO - Tongkat kayu itu perlahan menapak pasir yang kini tak lagi selebar dulu. Langkahnya pelan, sesekali berhenti, lalu matanya menerawang jauh ke arah laut. Di hadapannya terbentang Pantai Surabaya, pantai yang pernah menjadi saksi perjalanan hidupnya selama puluhan tahun.
Rahmah Kantohe kini telah berusia 79 tahun. Keriput di wajahnya seolah menjadi lembaran sejarah yang tak pernah ditulis dalam buku, namun tersimpan rapi di ingatannya. Setiap sudut pantai ini memiliki cerita. Tentang harapan, perjuangan, hingga kehilangan.
Semua bermula ketika Rahmah masih seorang anak kecil, bahkan belum genap berusia lima tahun.
Kala itu, Gunung Awu di Kepulauan Sangihe meletus. Erupsi dahsyat memaksa ribuan warga meninggalkan kampung halaman demi menyelamatkan nyawa. Bersama orang tua dan warga lainnya, Rahmah kecil ikut mengungsi menyeberangi lautan hingga tiba di Desa Maen, Kecamatan Likupang Timur, Minahasa Utara.
Mereka datang tanpa harta. Hanya membawa harapan agar bisa memulai hidup kembali.
Di tanah pengungsian itu, secercah harapan datang dari seorang pemilik lahan yang mempercayakan sebidang kebun untuk ditanami kelapa. Kesepakatannya sederhana. Hasil kelapa nantinya akan dibeli kembali oleh pemilik lahan dengan harga satu pohon satu ringgit atau sekitar dua rupiah satu sen pada masa itu.
Sebanyak 57 pohon kelapa ditanam keluarga Rahmah. Sebuah surat kuasa pun dibuat sebagai bukti kepercayaan.
Tak ada yang menyangka, pohon-pohon kecil yang mereka tanam dengan penuh harapan kelak menjadi saksi perjalanan panjang sebuah keluarga pengungsi.
Saat itu, kawasan yang kini dikenal sebagai Desa Wineru masih berupa hutan lebat. Nama Wineru sendiri berasal dari bahasa Minahasa yang berarti kampung baru, menggambarkan tempat baru bagi mereka yang memulai kehidupan dari nol. Desa ini kemudian berkembang menjadi desa pemekaran dari Desa Maen.
Di ujung hutan terbentang sebuah pantai.
Sebagian orang mengenalnya sebagai Pantai Surawaya. Konon, nama itu berasal dari banyaknya ikan sura yang hidup di perairan tersebut, sementara di daratan tumbuh subur tanaman bayam. Ada pula yang menyebutnya Pantai Surabaya karena pada masanya banyak didatangi warga asal Jawa Timur.
Apa pun asal-usul namanya, pantai itu pernah menjadi denyut kehidupan masyarakat.
Memasuki era 1980-an, Pantai Surabaya mulai dikenal sebagai destinasi wisata pantai pertama di kawasan Likupang. Popularitasnya terus meningkat hingga mencapai masa keemasan pada rentang 1995 sampai 2005, jauh sebelum Pantai Pulisan maupun Pantai Paal dikenal luas sebagai tujuan wisata.
Rahmah menjadi salah satu saksi hidup kejayaan itu.
Sambil memandang laut yang kini lebih dekat ke permukiman, ia mengenang bagaimana setiap akhir pekan dan hari libur ribuan orang berdatangan menikmati keindahan pantai.
Saat itulah roda ekonomi warga berputar.
Rahmah berjualan aneka kue dan menyewakan meja bagi para pengunjung. Dalam sehari saat musim liburan, penghasilannya bahkan mampu mencapai jutaan rupiah—angka yang sangat besar pada masa itu.
"Itu dulu ramai sekali," tuturnya lirih sambil menunjuk ke arah laut.
Jari tuanya kemudian mengarah lebih jauh.
"Dulu bibir pantai masih sekitar dua ratus meter di depan sana."
Kini garis pantai itu telah hilang.
Abrasi perlahan menggerus daratan sedikit demi sedikit. Ombak tak hanya merenggut pasir, tetapi juga menumbangkan pohon-pohon kelapa yang dahulu ditanam keluarganya sejak menjadi pengungsi.
Bangunan-bangunan penunjang wisata yang pernah menjadi sumber penghidupan warga pun ikut rusak diterjang abrasi.
Yang tersisa hanyalah kenangan.
Menurut Rahmah, berkurangnya keindahan pantai turut memengaruhi jumlah pengunjung. Perlahan ekonomi warga ikut melemah.
Di balik semua itu, ia menyimpan kegelisahan lain.
Ia percaya alam juga perlu dihormati.
Rahmah mengaku sedih melihat pantai yang terkadang dijadikan tempat pesta minuman keras. Tak jarang, menurutnya, terjadi korban tenggelam akibat pengaruh alkohol.
"Mungkin alam sedang marah," ucapnya pelan.
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan seorang nenek. Melainkan doa yang lahir dari seseorang yang telah menghabiskan hampir seluruh hidupnya bersama pantai ini.
Kini Pantai Surabaya memang tak lagi seramai dulu. Kejayaannya tinggal cerita yang terus hidup di ingatan para orang tua.
Namun di balik tatapan mata Rahmah yang mulai redup, masih tersimpan secercah harapan.
Ia berharap akan ada tangan-tangan kreatif, perhatian pemerintah, serta kepedulian masyarakat yang mampu menghidupkan kembali Pantai Surabaya. Bukan hanya agar keindahannya kembali dinikmati banyak orang, tetapi juga agar pantai yang pernah menjadi penyelamat kehidupan para pengungsi itu kembali menjadi sumber penghidupan bagi anak cucu dan masyarakat Wineru.
Sebab bagi Rahmah, Pantai Surabaya bukan sekadar hamparan pasir dan laut.
Di sanalah tersimpan jejak perjalanan seorang anak pengungsi yang tumbuh bersama pohon-pohon kelapa, membangun kehidupan dari nol, merasakan masa kejayaan, lalu perlahan menyaksikan semuanya hilang digerus ombak.
Namun selama harapan masih tersisa, sejarah itu belum benar-benar berakhir.