Prancis Melaju ke Semifinal, Maroko Kehabisan Jawaban di Boston
Administrator
10 Juli 2026
152 Views
LIKUPANG.INFO – Mimpi Maroko untuk kembali menorehkan sejarah di Piala Dunia 2026 harus terhenti di babak perempat final. Bermain di Stadion Boston, Kamis (9/7) waktu setempat, Singa Atlas takluk 0-2 dari Prancis yang tampil lebih matang, lebih efektif, dan nyaris tanpa cela.
Kemenangan ini mengantar Les Bleus melangkah ke semifinal untuk ketiga kalinya secara beruntun di Piala Dunia. Sementara bagi Maroko, perjalanan luar biasa yang sebelumnya menyingkirkan Belanda melalui adu penalti dan membungkam Kanada 3-0 akhirnya harus berakhir di tangan salah satu favorit juara.
Sejak peluit awal dibunyikan, Prancis langsung menguasai ritme permainan. Maroko sebenarnya mampu menahan tekanan pada babak pertama dan sempat mendapatkan momentum ketika Kylian Mbappé gagal mengeksekusi penalti. Momen tersebut seharusnya menjadi titik balik bagi wakil Afrika untuk bermain lebih berani. Namun peluang emas itu justru gagal dimanfaatkan.
Alih-alih meningkatkan intensitas serangan, Maroko justru terlalu dalam bertahan. Transisi dari bertahan ke menyerang berjalan lambat sehingga Brahim Diaz dan rekan-rekannya kesulitan menciptakan ancaman berarti di depan gawang Mike Maignan.
Hingga turun minum, skor memang masih 0-0. Namun statistik penguasaan permainan memperlihatkan Prancis jauh lebih nyaman mengendalikan jalannya pertandingan.
Memasuki menit ke-60, kebuntuan akhirnya pecah. Mbappé menebus kegagalannya dari titik putih lewat sebuah penyelesaian melengkung yang tak mampu dijangkau Yassine Bounou. Gol itu sekaligus menjadi gol ke-20 Mbappé sepanjang penampilannya di Piala Dunia.
Enam menit berselang, Prancis kembali menghukum kelengahan lini belakang Maroko. Ousmane Dembélé memanfaatkan ruang di sisi pertahanan dan menggandakan keunggulan menjadi 2-0. Sejak saat itu pertandingan praktis berada dalam kendali penuh Les Bleus.
Maroko mencoba bangkit melalui sejumlah pergantian pemain, namun kehilangan penyerang andalan Ismael Saibari akibat cedera membuat daya gedor mereka jauh berkurang. Sepanjang pertandingan, Singa Atlas hanya mampu melepaskan satu tembakan tepat sasaran, angka yang menggambarkan betapa solidnya organisasi pertahanan Prancis yang dikomandoi Dayot Upamecano dan William Saliba.
Ada beberapa peluang yang sebenarnya terlewatkan Maroko. Pertama, kegagalan memanfaatkan momentum setelah penalti Mbappé gagal berbuah gol. Kedua, minimnya keberanian melepas tembakan ketika memasuki sepertiga akhir lapangan. Ketiga, lambatnya transisi menyerang membuat setiap serangan mudah dipatahkan sebelum memasuki kotak penalti. Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat Maroko tak pernah benar-benar memberi tekanan serius kepada lini belakang Prancis.
Bagi Prancis, kemenangan ini mempertegas status mereka sebagai kandidat kuat juara. Selain memiliki lini depan yang tajam, Les Bleus juga belum kebobolan satu gol pun di fase gugur turnamen ini. Konsistensi tersebut menjadi modal penting menghadapi semifinal.
Selanjutnya, Prancis akan menghadapi pemenang laga Spanyol kontra Belgia pada babak semifinal yang dijadwalkan berlangsung 14 Juli mendatang. Sementara Maroko harus mengakhiri perjalanan mereka dengan kepala tegak setelah kembali membuktikan bahwa sepak bola Afrika mampu bersaing dengan kekuatan-kekuatan besar dunia.
---
Meski sempat gagal mengeksekusi penalti pada babak pertama, performa Kylian Mbappé tetap menjadi pembeda dalam pertandingan ini. Penyerang berusia 27 tahun itu tidak membiarkan kegagalan tersebut memengaruhi permainannya. Sebaliknya, ia tampil semakin agresif sepanjang babak kedua dengan memanfaatkan kecepatannya untuk membongkar pertahanan Maroko yang dikawal Achraf Hakimi dan Yassine Bounou.
Gol pembuka yang dicetak Mbappé pada menit ke-60 menjadi titik balik pertandingan. Berawal dari pergerakan tanpa bola yang sulit dibaca bek lawan, ia melepaskan tembakan melengkung yang gagal dijangkau Bounou. Gol tersebut menjadi bukti mental juara seorang Mbappé—mampu bangkit dari kegagalan penalti dan menjawabnya dengan kontribusi nyata bagi tim.
Tidak hanya mencetak gol, Mbappé juga menjadi motor serangan Prancis. Hampir setiap kali menguasai bola, ia memaksa lini belakang Maroko mundur dan membuka ruang bagi rekan-rekannya. Pergerakannya membuat pertahanan Singa Atlas kehilangan bentuk, situasi yang kemudian dimanfaatkan Ousmane Dembélé untuk mencetak gol kedua. Dengan tambahan satu gol ini, Mbappé semakin mengukuhkan posisinya dalam perburuan **Sepatu Emas (Golden Boot)** Piala Dunia 2026 dan kembali menunjukkan mengapa ia masih menjadi salah satu pemain paling menentukan di panggung sepak bola dunia.